About Solo

Istilah Solo Raya sebenarnya mengacu pada suatu wilayah yang dahulu dikenal dengan istilah Karesidenan Surakarta ( Eks karesidenan Surakarta ). Karesidenan adalah sebuah wilayah yang dipimpin oleh seorang residen pada masa penjajahan dulu. Dahulu ada Karesidenan Surakarta yang wilayahnya meliputi kota Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten. Wilayah Karesidenan ini serupa dengan wilayah Kerajaan Surakarta Hadiningrat. Keseluruhan wilayah ini menempati area seluas 5.722,38 km2.Istilah Solo raya memang diciptakan untuk menggantikan istilah Subosukawonosraten. Subosukowonosraten adalah singkatan dari wilayah-wilayah yang tergabung yaitu. surakarta,boyoali, sukoharjo, Karang Anyar, Wonogiri sragen. Klaten. Solo Raya memiliki Slogan Solo Spirit of Java. Dengan Slogan itu Solo raya ingin menegakkaan kembali semangat adi luhung budaya jawa dalam pembangunan wilayah.

Bengawan Solo

Bengawan Solo, Riwayatmu ini, Sedari dulu jadi…, Perhatian insani, Musim kemarau., Tak seberapa airmu, Dimusim hujan air.., Meluap sampai jauh, Mata airmu dari Solo, Terkurung gunung seribu, Air meluap sampai jauh, Dan akhirnya ke laut, Itu perahu, Riwayatnya dulu, Kaum pedagang selalu…, Naik itu perahu

Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Candi Cetho


Candi Cetho (cetho = jelas, jernih tanpa halangan) merupakan sebuah candi peninggalan budaya Hindu dari abad ke-14 pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Fungsi candi ini tidaklah berbeda dengan candi Hindu yang lain yakni sebagai tempat pemujaan. Sampai saat inipun Candi Cetho tetap digunakan oleh penduduk sekitar yang memang merupakan penganut agama Hindu.
Cetho terdiri dari sembilan trap (tingkat) berbentuk memanjang kebelakang dengan trap terakhir sebagai trap utama pemujaaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa (seperti bentuk-bentuk tempat pemujaan pada masa purba yaitu Punden Berundak). Trap-trap tersebut adalah:
Trap pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi.
Trap kedua masih berupa halaman namun ditrap ini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi yang merupakan leluhur masyarakat Cetho.
Pada trap ketiga terdapat sebuah soubment memanjang di atas tanah yang menggambarkan nafsu badaniah manusia (nafsu hewani) berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang lebih dari 2 m, dengan diapit dua buah lambang kerajaan Majapahit menunjukkan masa pembuatan candi.
Pada trap keempat dapat ditemui relief pendek yang merupakan cuplikan kisah Sudhamala, (seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh) yaitu kisah tentang usaha manusia untuk melepaskan diri dari malapetaka.
Pada trap kelima dan keenam terdapat pendapa-pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut masih sering digunakan sebagai tempat melangsungkan upacara-upacara besar keagamaan.
Trap ketujuh dapat ditemui dua buah arca di samping kanan kiri yang merupakan arca Sabdopalon dan Nayagenggong, dua orang abdhi kinasih dari Sang Prabu Brawijaya yang juga merupakan penasehat spiritual dari beliau. Hal ini melambangkan kedekatan jiwa beliau dengan rakyatnya yang diwakili kedua tokoh tersebut.
Pada trap kedelapan terdapat arca Phallus (kuntobimo) di samping kiri dan arca Sang Prabu Brawijaya yang digambarkan sebagai "mahadewa". Arca phallus melambangkan ucapan syukur atas kesuburan yang melimpah atas bumi cetho dan sebuah pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kesuburan yang dilimpahkan itu tak kan terputus selamanya. Arca Sang Prabu Brawijaya menunjukkan penauladanan masyarakat terhadap kepemimpinan beliau, sebagai raja yang bèrbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta yang diyakini pula sebagai utusan Tuhan di muka bumi.
Trap terakhir (trap kesembilan) adalah trap utama yang merupakan tempat pemanjatan doa kepada Penguasa Semesta yang berbentuk kubus berukuran 1,50 m2.Candi Cetho menghadap ke arah barat hal ini berbeda dengan candi-candi yang ada di Jawa Tengah karena Candi Cetho begitu pula Candi Sukuh dibangun pada masa Majapahit sehingga dengan sendirinya pembangunan candi terpengaruh oleh apa yang terbiasa ada di candi-candi Jawa Timur.
Di sebelah atas bangunan Candi Cetho terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan). Sedangkan di sebelah barat dari bangunan candi dengan menuruni lereng yang sangat terjal bisa ditemukan lagi sebuah bangunan candi yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Candi Kethek. Namun sayang sekali sampai saat ini penggalian candi belum dilakukan. Bangunan Candi Cetho secara keseluruhan terbuat dari batu-batuan yang dipahat berbentuk persegi empat dan ditata rapi untuk ubin, ataupun pagar serta relief candi. Kebanyakan arca dan relief sudah banyak mengalami kerusakan. Candi Cetho yang terletak di lereng Gunung Lawu sebelah barat masuk di kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dikelilingi kelebatan rimba



sangiran

Sangiran adalah sebuah kawasan yang terletak 15 km di sebelah utara koto Solo ke arah Purwodadi. Sangiran adalah tempat yang sangat penting untuk mempelajari Pithecanthropus Erectus, manusia pra-sejarah dari Jawa. Tanah di Sangiran banyak menyimpan fosil mahluk hidup dari jaman pra-sejarah.
Di Sangiran terdapat Museum Pleistocene yang menyimpan tulang-tulang Pithecanthropus Erectus, fosil tumbuhan maupun fosil binatang. Sangiran juga adalah tempat yang penting untuk mempelajari teori evolusi manusia, fosil manusia purba yang ditemukan di Sangiran, dianggap sebagai salah satu mata rantai dalam teori evolusi manusia.

Bagi ilmuwan yang bergerak dibidang Geologi, anthropologi dan arkeologi Sangiran sangat menarik untuk wisata ilmu pengetahuan. Banyak ahli Geologi, anthropologi dan arkeologi datang ke situs ini untuk melakukan riset dan belajar, diantaranya: Van Es (1939), Duyfyes (1936), Van Bemmelen (1937), Van Koeningswald (1938), Sartono (1960), Suradi (1962) dan Otto Sudarmaji (1976). Van Koeningswald menemukan paling tidak ada lima fosil manusia purba yang berbeda –beda jenisnya yang ditemukan di Sangiran, dan ini sangat mengagumkan.
Tidak ada tempat lain di dunia ini yang kekayaan fosilnya menyamai apalagi melebihi Sangiran. Fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran sangat beragam, ada fosil mahluk hidup dari daratan, maupun fosil mahluk hidup dari lautan. Dari hasil temuan ini, ada kemungkinan bahwa pulau Jawa terangkat dari dasar laut jutaan tahun yang lalu.

Pada tahun 1891, Eugene Dubois, ahli antropologi dari Perancis menemukan fosil Pithecanthropus Erectus, manusia purba tertua dari Jawa. Kemudian di tahun 1930 dan 1931, di desa Ngandong, Trinil-Mojokerto, ditemukan juga fosil-fosil manusia purba yang berasal dari jaman Pleistocene. Penemuan-penemuan ini mengungkap sejarah manusia yang hidup berabad-abad yang lalu.
Prof. Dr. Van Koenigswald di tahun 1936 menemukan lebih banyak lagi bukti-bukti yang mendukung teori evolusi manusia. Fosil-fosil yang ditemukannya mendukung teori yang menyatakan bahwa manusia berevolusi dari manusia kera menjadi manusia seperti bentuk saat ini.
Fosil lain yang ditemukan di Sangiran, seperti fosil mammoth (gajah dari jaman pra sejarah) saat ini disimpan di Museum Geologi Bandung. Pada pertengahan tahun 1980 an, penemuan mammoth utuh setinggi 4 meter mengejutkan dunia ilmu pengetahuan.
Saat ini, penduduk desa disekitar Sangiran banyak yang menjadi pengrajin souvenir dari batu yang dibentuk menyerupai kapak, telur, cincin dan bentuk-bentuk patung lain untuk menarik wisatawan.

Karena kekayaan jenis fosil yang dikandungnya, bumi Sangiran telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia.




Candi Sukuh


Terletak di barat laut kaki Gunung Lawu, sebuah candi peninggalan masa kerajaan Majapahit berdiri. Ditemukan pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta pada masa pemerintahan Gubernur Raffles, tepatnya di desa Sukuh, kelurahan Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah.

Komplek lokasi Candi Sukuh secara keseluruhan merupakan bangunan berteras yang membujur dari arah timur ke barat, dengan pintu berada di sebelah barat. Apabila dilihat dengan teliti, susunan candi ini terdiri dari tiga teras, dengan teras pertama adalah teras yang paling rendah, diikuti teras kedua dan ketiga yang letaknya makin tinggi dan masing-masing teras dihubungkan oleh anak tangga dan gapura yang berfungsi sebagai pintu masuk teras.
Sebelum memasuki teras pertama, terlebih dahulu harus mendaki tangga masuk yang berbentuk gapura. Gapura pertama merupakan gapura terbesar yang mempunyai bentuk arsitektur khas, dimana dinding disusun tidak tegak lurus (vertikal), tetapi miring, sehingga sepintas mengingatkan pada bentuk trapesium dengan atap di atasnya. Pada gapura pertama ini kita bisa menjumpai relief-relief yang membentuk rangkaian gambar yang mengandung cerita. Masih pada halaman teras pertama, dapat pula dijumpai beberapa batu fragmen candi. Terletak di halaman candi namun jelas terlihat kalau susunannyasudah tidak pada bentuk aslinya lagi.
Memasuki Teras ke dua, juga dapat dijumpai gapura yang sudah dalam keadaan rusak dan tak beratap lagi, ukurannya lebih kecil dari gapura pertama. Pada teras ini terdapat beberapa peninggalan yang berupa sepasang arca penjaga pintu yang terletak di depan gerbang ke tiga, penggambaran arca ini terlihat kaku dan kasar, sehingga memberi kesan pada arca yang berasal dari jamanpra sejarah. Juga terdapat semacam dinding bangunan dengan pahatan relief. Diantaranya relief yang menggambarkan seorang wanita berdiri menghadapi ububan (peniup api pada pandai besi), ada pula relief yang menggambarkan seorang pandai besi.
Teras ke tiga adalah teras yang terletak paling belakang dan paling atas, dan dianggap teras yang paling suci. Pada halaman ini terdapat beberapa bangunan, termasuk bangunan induk, patung-patung, batu-batu candi serta relief yang berbentuk binatang dan relief cerita Cudhamala, merupakan sebutan bagi salah satu tokoh Pandawa, Sahadewa. Menggambarkan adegan pada waktu Dewi Kunti minta pada Sahadewa (Sadewa) agar mau meruwat Dewi Durga yang terkena kutukan Dewa Syiwa.
Bangunan induk candi ini berbentuk seperti piramid terpancung. Sesuai dengan arah candinya, bangunan ini mempunyai tangga masuk di sebelah barat. Tangga masuk sangat tinggi, mempunyai sayap tangga dan di atasnya terdapat atap pintu. Pada keempat atap pintunya terdapat hiasan ular (kepala ular) dengan tubuh ular yang saling melilit yang menjadi batas pinggir ketiga sisi atap pintu. Hiasan ular ini di bagian tangahnya berlubang, diperkirakan sebagai saluran air yang dipergunakan untuk mengalirkan air suci pada waktu upacara keagamaan. Meski bangunan ini dianggap paling penting dan suci, akan tetapi tidak banyak peninggalan yang terdapat di dalam piramid ini. Bangunan ini tingginya kurang lebih enam meter, dan diatasnya merupakan dataran yang sekarang sudah kosong, kecuali batu berlubang persegi yang bentuknya sepaerti yoni, terdapat di tengah-tengah dataran itu.
Tertarik untuk berkunjung ke sana? Tentu Anda tahu kota Solo, dari kota ini bisa menggunakan angkutan elp atau bis menuju terminal Karanganyar. Dari sini bisa menggunakan colt yang beroperasi sampai jam lima sore, dan langsung bisa mengantar ke lokasi Candi Sukuh. Lewat dari jam tersebut, ojek bisa menjadi pilihan selanjutnya untuk langsung mengantar ke tempat tujuan.




Telaga Sarangan


Telaga Sarangan yang juga dikenal sebagai telaga pasir ini adalah sebuah telaga alami yang terletak di kaki Gunung Lawu, di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.Berjarak sekitar 16 kilometer arah barat kota Magetan. Telaga ini luasnya sekitar 30 hektar dan berkedalaman 28 meter. Dengan suhu udara antara 18 hingga 25 derajat Celsius, Telaga Sarangan mampu menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya.
Telaga Sarangan merupakan obyek wisata andalan Magetan. Di sekeliling telaga terdapat dua hotel berbintang, 43 hotel kelas melati, dan 18 pondok wisata.Di samping puluhan kios cendera mata, pengunjung dapat pula menikmati indahnya Sarangan dengan berkuda mengitari telaga, atau mengendarai kapal cepat.Fasilitas obyek wisata lainnya pun tersedia, misalnya rumah makan, tempat bermain, pasar wisata, tempat parkir, sarana telepon umum, tempat ibadah, dan taman.
Keberadaan 19 rumah makan di sekitar telaga menjadikan para pengunjung memiliki banyak alternatif pilihan menu. Demikian pula keberadaan pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai suvenir telah memberikan kemudahan kepada pengunjung untuk membeli oleh-oleh. Hidangan khas yang dijajakan di sekitar telaga adalah sate kelinci.
Magetan juga tertolong dengan adanya potensi industri kecil setempat yang mampu memproduksi kerajinan untuk suvenir, misalnya anyaman bambu, kerajinan kulit, dan produk makanan khas seperti emping melinjo dan lempeng (kerupuk dari nasi).
Telaga Sarangan juga memiliki layanan jasa sewa perahu dan becak air. Ada 51 perahu motor dan 13 becak air yang dapat digunakan untuk menjelajahi telaga.
Telaga Sarangan memiliki beberapa kalender event penting tahunan, yaitu labuh sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah, liburan sekolah di pertengahan tahun, Ledug Sura 1 Muharram, dan pesta kembang api di malam pergantian tahun.
Pemkab setempat tengah membuat proyek jalan tembus yang menghubungkan Telaga Sarangan dengan obyek wisata Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar. Proyek pelebaran dan pelandaian jalan curam yang menghubungkan dua daerah tersebut diharapkan selesai tahun 2007.
Obyek wisata ini dapat ditempuh dari Kota Magetan; dan lokasinya tak jauh dengan Air Terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu (Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah).
Pemkab Magetan juga ingin mengembangkan Waduk Poncol (sekitar 10 kilometer arah selatan Telaga Sarangan) sebagai obyek wisata alternatif.

Grojokan Sewu

Tawangmangu, sebuah daerah di kaki gunung Lawu, sekitar 30 kilometer arah Timur kota Solo. Sebuah daerah wisata alam yang lumayan banyak dikunjungi para turis baik lokal maupun internasional, serta menjadi tempat transit bagi para pecinta alam yang hendak melakukan pendakian ke gunung Lawu.Apa sih yang bisa kita temui di Tawangmangu??? Di daerah yang masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Karanganyar ini, bisa ditemukan beberapa peninggalan sejarah berupa candi. Salah satu yang paling terkenal adalah Candi Sukuh, sebuah candi Hindu yang terletak sedikit di bawah Tawangmangu. Candi ini terkenal terutama karena adanya sebuah pahatan relief berbentuk lingga dan yoni yang merupakan lambang dari alat vital pria dan wanita.
Daerah Tawangmangu terkenal pula sebagai daerah wisata dengan adanya tempat wisata air terjun bernama Grojogan Sewu, yang kalau diterjemahkan berarti Air Terjun Seribu. Daerah ini dekat pula dengan sebuah wisata kolam renang yang bernama Balekambang. Turis dapat mengelilingi jalan yang ada di situ baik sambil berjalan kaki ataupun naik kuda yang disewakan di situ sambil menikmati pemandangan atau melihat-lihat souvenir yang dijual di situ.
Satu yang istimewa dari tempat wisata Grojogan Sewu, tempat ini menjadi suaka bagi puluhan atau bahkan ratusan kera yang sampai sekarang masih mendiami habitat di sekitar air terjun tersebut. Kera-kera yang terkadang jahil ini paling senang jika diberi makanan atau minuman oleh para pengunjung, tapi jangan coba-coba usil... kera-kera ini bisa berubah jadi super galak... ehheheheee....
Makanan yang paling terkenal di Tawangmangu adalah sate kelinci. Makanan ini bisa dinikmati di rumah makan-rumah makan atau penjaja keliling yang banyak terdapat di sekitar Grojogan Sewu.
Satu lagi yang terkenal dari Tawangmangu adalah udara khas pegunungannya yang dingin, walaupun sekarang ngga sedingin jaman dulu lagi, serta kegiatan panen wortel yang bisa kita saksikan dan bisa langsung kita makan di tempat setelah dicuci dari mata air yang banyak terdapat di situ.... segaaaaaarrrr.....
Satu hal yang mungkin akan sedikit mengganggu kita saat berwisata di Tawangmangu adalah keadaan pasar dan terminal yang terlihat sedikit kumuh dan adanya beberapa tempat yang terkenal sebagai tempat berpetualang bagi para hidung belang. Tapi, dari sisi yang paling umum, Tawangmangu masih tetap dapat masuk dalam daftar tujuan wisata jika anda sedang bepergian ke Solo.
 

different paths

college campus lawn

wires in front of sky

aerial perspective

clouds

clouds over the highway

The Poultney Inn

apartment for rent